Thursday, March 18, 2010

Sahabat Sehidup Semati

Seperti biasa, kami berkumpul di rumahku untuk tertawa bersama. Lima orang sahabat yang berjanji akan menjadi sahabat sehidup semati. Tapi hari ini berbeda, kami tidak tertawa. Kami serius berbicara.

Seorang diantara kami akan segera mengakhiri masa lajangnya, dan kami sedang membuat perencanaan untuk merealisasikannya. Sedikit sekali derai tawa. Ah aku tak suka. Pernikahan pasti akan membuat kami jauh, pernikahan pasti akan membuat kami sibuk dan tak sempat bertemu.

Dor! Dor! Dor! Dor! Mereka tergeletak satu per satu.

Kulihat mereka.. dan pistol milik ayahku.

Maaf kawan, bukannya aku benci kalian, tetapi ini karena aku ingat janji kita.. Sahabat sehidup semati…

Dor!!



-----
Astridarum adalah seorang mahasiswa S2 yang sedang mangkir dari segala kewajibannya. Namun dia tidak pernah mangkir dari hobinya memasak, travelling, dan wisata kuliner. Oh ya! Dan difoto! :D

Wednesday, March 17, 2010

Puteri Indonesia

Puteriku mematutkan diri di depan cermin. Sesekali ia tersenyum dan berputar. Matanya berbinar dan kadang mulutnya komat-kamit, bicara sendiri.
“Sedang apa, Nak?”
“Menjawab pertanyaan juri” jawabnya.
“Ceritanya Jelita lagi ikutan lomba apa?
“Pemilihan Puteri Indonesia, Mak”
Aku tersenyum lalu kembali sibuk menekuni mesin jahitku, bekerja.
“Mak”
“Ya?”
“Jelita mau jadi Puteri Indonesia”
“Iya” jawabku sekenanya
“Tapi Puteri Indonesia ga boleh sumbing ya Mak?” Suaranya berubah sedih.
Aku berhenti bekerja. Terpaku pilu, tak sanggup menoleh kepadanya.
 “Tunggu sampai utang-utang kita terbayar semua ya, Nak. Sampai lintah darat itu ga teriak-teriak lagi. Nanti emak nabung buat bayarin kamu operasi” janjiku dalam hati.

Wulan Aquariyanti. Blogger. http://celotehsiulan.blogspot.com

Friday, March 12, 2010

Perjalanan Sebutir Pasir

Terlepas aku dari sandal usang itu. Terbangun dan mulai kuingat-ingat. Awalnya dari sebuah meteor.

Serpihan jatuh ke bumi.

Saat itu dinosaurus meraja-lela.

Yaah, 65 juta tahun aku menemani ribuan kaki dan penutupnya.
Jatuh bangun peradaban.
Sampai seorang pangeran terjatuh dari kuda membawaku di sandalnya ke istana.
Megah hanya di luar. Di dalam penuh persaingan, keculasan, iri menutupi kebaikan.

Akhirnya aku terbawa ke kampung ini.
Dan melekat lama sekali di sandal ini
Pemiliknya Pak Joko. Ia sangat miskin, tetapi jujur dan baik hati.
Lepas aku dari sandalnya dan bergabung ke adukan semen di rumah tetangga. Di dinding ini aku akan selama-lamanya.

------------------------
kiriman: Krowter. Seorang dosen yang senang membaca dan menulis.