Thursday, January 28, 2010

Jangan ke Sini

Sudah kubilang kau jangan ke sini.
Di sini semuanya berbeda.
Di sini tidak ada yang kau kenal.
Di sini kau bukan siapa-siapa.
Tapi kau berkeras.
Entah apa yang kau cari.
Entah mengapa sekarang kau datang.
Pasti bukan karena aku. Bukan pula dia. Bukan ini. Bukan itu.
Apa kau sekedar ingin tahu?
Apa kau sekedar bosan di sana?
Apa?
Meskipun kita berjumpa, aku mengajak.
Sekarang marilah.
Mari kita jalani.
Mari kita telusuri.
Mari kita cari apa yang kau cari.
Kuharap kau tak akan kecewa.
Karena kau tak akan bisa kembali.
Tak ada lagi waktu menyesali, jika roh dan jasad sudah berpisah.


kiriman: Krowter. Seorang dosen yang senang membaca dan menulis.

Tuesday, January 26, 2010

Dia-nya

Dia selalu merindukannya, walaupun keputusan meninggalkan dia adalah keputusannya. Cita-citanya terlalu berharga untuk dikorbankan dengan ikatan janji.

Kala dia tak kuasa menahan rasa rindu, diketikkan sebaris namanya di kolom mesin pencari. Semalaman dia memilah informasi demi informasi tentangnya, berharap menemukan gambarnya yang tersenyum, kabar karirnya yang menanjak atau keberadaannya di tempat antah berantah. Dia menemukan sebaris nama itu dan meraba lembut layar monitor. Berharap dia rasakan, secercah bukti kerinduannya akan dia.

Esoknya dia mengetikkan lagi namanya, dan esoknya, dan esoknya.

Hari ini namanya menghasilkan seribu empat ratus hasil pencarian. Baris ketiga membuat mata dia nanar: link blog perkawinannya bulan depan.

Kiriman G.Wangge

Hanya Mimpi

sejenak aku merasa tangan aku digenggam oleh sesosok pria separuh abad..

tersenyum ia padaku.

selangkah demi selangkah kita berjalan bersama.

di salah satu tempat favoritku, pantai.

ia tersenyum dan berkata, “saya sayang kamu, putri kecilku.”

gambaran pria berusia lebih dari setengah abad.

gambaran yang saat itu sangat membuat ku merasa layaknya anak kecil yang bahagia.

saat ku ingin membalas dengan “aku juga sayang …….”

tak sempat ku ucap, langit-langit kamar menyambut kedua mataku terbuka perlahan…

tersadar, sejenak merasakan seperti apa mempunyai figur ayah yang seharusnya dan merasakan seperti anak lainnya. sungguh luar biasa.

lalu dalam hati, aku berkata “hanya mimpi…”



Kiriman Tjantik Anindya

Monday, January 25, 2010

Kencan Sempurna

Definisi kencan sempurna buatku adalah: sebungkus rokok, ice lemon tea, kamu, dan obrolan kita. Seperti malam ini.

“Hai, cewek.” Aku mendongak. Kamu menatapku dengan cengiran jahilmu itu.

“Hai, nyet!” sahutku. Kamu justru menganggap itu adalah panggilan mesraku kepadamu.

Malam berjalan menyenangkan. Penuh tawa. Toyoran dahi. Tatapan penuh cinta setiap beberapa menit bila kita kehabisan bahan pembicaraan.

Aku melirik jam tanganmu.

“Sudah malam. Aku harus pulang,” kataku.

“Kita akan bertemu lagi,” katamu. Aku menatapmu, mengangguk pelan.

Sebelum beranjak, aku memperhatikan pelayan kafe membereskan meja. Segelas ice lemon tea dan sebuah asbak. Kemudian aku melihat sosokmu memudar, masih dengan cengiran jahilmu itu.


penulis: nita